• header
  • header
  • smk

Selamat Datang di Website SMK PEMKAB PONOROGO | Terima Kasih Atas Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMK PEMKAB PONOROGO

NPSN : 20510096

Jl. Niken Gandhini Setono Jenangan Kotak Pos 101/02 Ponorogo 63401


stmpemkab.ponorogo@yahoo.co.id

TLP : 0352461238


          

Banner

Jajak Pendapat

No Poles setup.

Statistik


Total Hits : 103559
Pengunjung : 23586
Hari ini : 10
Hits hari ini : 41
Member Online : 0
IP : 54.91.171.137
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Anak SMK Pemkab Ponorogo Ciptakan Alat Penyiang Padi




Ponorogo - Petani di wilayah seputaran Ponorogo patut berterima kasih kepada SMK  Pemkab Ponorogo. Keluhanan para petani yang kesulitan mencari tenaga kerja, kini mulai dijawab oleh sekolah yang dipimpin Syamsuddin, ST itu. Berkat keseriusan siswa dan guru pembina, SMK ini mampu membuat alat penyiang gulma bermesin. Bila biasanya penyiangan membutuhkan biaya mahal dan butuh waktu lama dengan tenaga manusia yang sudah mulai langka, kini alat karya anak SMK ini bisa menjadi solusinya.


Alat tepat guna karya anak SMK itu dilaunching, beberapa hari  lalu oleh pihak sekolah bersamaan pengumuman kelulusan siswa SMK Pemkab Ponorogo. Selain dikenalkan kepada orang tua wali siswa yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, launching turut pula dihadiri Ir. Supriyanto, MMA selaku pembina yang juga kepala Kantor Ketahanan Pangan Ponorogo.


Kepada www.edhiebaskoro.com , Ir. Supriyanto, MMA mengungkapkan bahwa siswa SMK Pemkab Ponorogo memang telah berhasil membuat alat penyiang gulma. Sekolahnya merasa tergugah untuk meciptakan alat ini karena beberapa musim tanam ini petani banyak yang mengeluhkan biaya untuk kegiatan penyiangan. “Dengan alat ini petani sangat terbantu karena biaya penyiangan dapat ditekan,” sebutnya. Apalagi, kata dia, alat ini bisa menjadi solusi dengan adanya fenomena minimnya tenaga tani. “Sekarang itu mencari tenaga kerja petani sangat sulit, maka alat ini bentuk kepedulian kami mengatasi permasalahan itu,” kata Ir. Supriyanto, MMA, Rabu (29/5).  


Menurutnya, mesin penyiang ini merupakan salah satu tehnologi tepat guna dibanding cara-cara penyiangan manual lain, seperti dicabut langsung dengan tangan, dengan alat landak atau sosrok maupun lainnya. Dirancang sedemikian rupa sehingga mampu digunakan untuk kegiatan penyiangan tanaman padi sawah berumur antara 15-40 hari dengan jarak antara baris yang sudah ditentukan.  “Di atas umur itu, tanaman sudah terlalu tinggi sehingga malah bisa roboh oleh mesin,” tandasnya.


Alat yang menggunakan bahan bakar bensin itu bekerja layaknya menggunakan mesin traktor namun berbentuk mini. Sistem kerjanya, motor akan mengerakan as roda yang dihubungkan dengan semacam ‘garu’ bekerja menghancurkan rumput. “Sekali jalan bisa menyiangi 3 baris padi. Jadi jelas ini mengurangi kelelahan kerja, dan mampu menekan ongkos kerja penyiangan,” tandasnya. Selain itu, rumput atau gulma yang hancur selanjutnya bisa menjadi pupuk alami. Secara teknis, cakar pada mesin ini, kecuali mencabut rerumputan juga dapat memperbaiki aerasi tanah yang berguna merangsang pertumbuhan akar. Dengan pertumbuhan akar lebih baik, penyerapan nutrisi dari pemupukan pun lebih baik. Pemupukan menjadi lebih efisien “Kalau manual biasanya diinjak atau ditaruh di pematang, cara itu sebenarnya malah membuat berkembang bibit gulma,” jlentrehnya.


Sementara itu, kepala SMK Pemkab Ponorogo Syamsuddin, ST mengaku bangga anak didiknya mampu menciptakan karya tepat guna bagi petani. Menurutnya, ini adalah terobosan luar biasa sekolahnya demi menjawab persoalan masyarakat khususnya petani maupun pemerintah yang ingin mempertahankan swasembada beras. Pihaknya pun sudah melakukan uji coba diberbagai tempat dan hasilnya pun dinilai memuaskan. Alat ini terbukti mampu meningkatkan kapasitas kerja penyiangan, dibandingkan dengan penyiangan cara manual . “Kecepatannya luar biasa. Bila nggaruk satu kotak itu butuh waktu dua atau tiga hari, dengan alat ini cukup setengah hari saja rampung,” sebutnya.


Dibeberkanya, mesin ini  ringan dan mudah dijalankan. Bobotnya tigak lebih dari hanya 25 kg, lanjut dia, sehingga cukup dioperasikan satu atau dua orang bergantian. Konsumsi bahan bakarnya sekitar 0,9 liter (bensin campur oli 2T) per jam. Jadi, biayanya satu kali penyiangan per hektar berkisar Rp100 ribu—Rp150 ribu.


Karya spektakuler ini ternyata digarap gabungan anak dua jurusan yakni Teknik Kendaraan Ringan (TKR) maupun Auto Bodi. “Kita tekankan meski dirumpun TKR atau Bodi jangan berkutat disitu saja. Kami dorong untuk membuat alat tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat,” sebutnya. Pihaknya siap melayani permintaan petani dengan memproduksi massal alat tersebut. “Kita sudah punya model atau proto tipe-nya, pembuatannya tidak ada satu bulan sudah jadi,” katanya. Ditanya harga, ia meyakinkan bahwa alat ini sepenuhnya bagi petani sehingga tidak dijual dengan harga mahal. “Pokoknya sangat terjangkau, ini persembahan SMK Pemkab Ponorogo untuk petani,” tukasnya. (MUH NURCHOLIS)



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas